ANMELDEN“Jadi, dia pelayan yang memberikan wine pada Violetta dan sampanye pada Jefferson?”Alexander menatap jasad seorang pemuda yang terbaring di lantai kamar sewaan. Robin berdiri di sampingnya, sementara beberapa petugas kepolisian memeriksa lokasi.“Iya. Sayangnya, dia sudah dibungkam sebelum kita sempat mendapatkan keterangan darinya,” jawab Robin.“Apa penyebab kematiannya sudah diketahui?”“Pemeriksaan masih berlangsung. Polisi belum bisa memastikannya.”Robin mengalihkan pandangan kepada Alexander.“Menurut tetangganya, pemuda ini dikenal baik dan sudah cukup lama tinggal di sini. Tapi, belakangan dia sering pulang dalam keadaan tidak seperti biasanya. Ibunya juga dikabarkan sakit parah dan membutuhkan biaya pengobatan yang besar.”Alexander mengerutkan kening.“Masalah keuangan bisa menjadi salah satu motif. Mungkin ada seseorang yang menawarkan uang untuk melakukan pekerjaan tertentu.”“Itu juga yang kupikirkan. Polisi sedang melacak identitasnya dan mencari informasi tentang diri
“Alex, apa yang terjadi pada Violetta?”Jefferson langsung bangkit begitu membuka mata dan mendapati istrinya terbaring di ranjang rumah sakit yang tidak jauh darinya. Namun, tubuhnya masih lemah. Ia terhuyung dan hampir jatuh jika Alexander tidak segera menahan lengannya.“Jangan memaksakan diri. Kamu baru saja sadar.”“Aku tidak peduli. Kenapa Violetta ada di sini?”Alexander membantunya kembali duduk di tepi ranjang.“Dia dibius seseorang. Untungnya, kami berhasil menemukannya sebelum terlambat.”Wajah Jefferson berubah tegang.“Dibius? Siapa yang melakukannya?”“Kami belum tahu pasti. Robin sedang membantu menyelidiki kejadian di hotel.”Jefferson mengalihkan pandangan kepada Violetta. Wajah perempuan itu tampak pucat, sementara selang infus terpasang di tangannya.“Bagaimana kondisinya sekarang?”“Dokter sedang memantaunya. Untuk sementara, kita harus menunggu sampai efek obatnya mereda.”Jefferson mengepalkan tangan di atas selimut.“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”Alexa
“Violetta, akhirnya kamu jatuh ke tanganku!”Gerry tersenyum lebar melihat Violetta terhuyung sebelum jatuh ke lantai. Perempuan itu mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangan, tetapi tenaganya semakin terkuras. Kepalanya terasa berat, sementara pandangannya terus berputar.Gerry melangkah mendekat.“Jangan mendekat!” Violetta mengangkat wajahnya. “Kalau kamu berani menyentuhku, kamu akan menyesal.”Ancaman itu tidak membuat Gerry gentar. Ia justru tertawa sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya.“Dalam keadaan seperti ini, kamu masih sempat mengancamku?”Violetta merapatkan jemarinya di sekitar ponsel yang tergeletak di dekat paha. Dengan sisa tenaga, ia menekan tombol rekam tanpa mengalihkan perhatian Gerry.“Aku tahu kamu tidak mungkin melakukan semua ini sendirian,” ujar Violetta. “Siapa yang menyuruhmu?”Senyum Gerry sempat memudar. Namun, ia segera menguasai ekspresinya.“Apa maksudmu? Kamu pikir aku tidak mampu melakukannya sendiri?”“Kalau memang begitu, kenapa kam
“Jefferson, lihat istrimu. Dia terlihat seperti sedang menjilat tuan rumah bersama kedua temannya.”Jefferson menghentikan langkahnya. Katherine berdiri di sampingnya dengan senyum tipis, sementara pandangannya mengarah kepada Violetta yang sedang berbincang bersama Andrea, Alexander, dan Robin.“Katherine, jaga ucapanmu.” Jefferson menatapnya tajam. “Aku masih menghormatimu karena hubungan baik yang pernah kita miliki.”Katherine mengatupkan bibir, tetapi tidak menyerah.“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat. Kamu tidak merasa terganggu melihat istrimu tertawa begitu akrab dengan laki-laki lain?”Jefferson melirik Violetta sekilas. Perempuan itu sedang tertawa menanggapi perkataan Robin.“Aku percaya kepada istriku.”“Jefferson!”Katherine menahan lengannya ketika laki-laki itu hendak pergi.“Kamu bahkan tidak ingin memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi?”Jefferson melepaskan tangannya.“Aku tidak perlu membuktikan kepercayaanku kepada istriku hanya untuk memuaskan kecuriga
“Ayo, kita bersulang untuk pertemuan kita kembali. Besok aku akan mengirimkan undangan VIP untuk kalian. Lusa, restoran baruku resmi dibuka!”Robin mengangkat gelasnya ketika seorang pelayan melintas membawa nampan berisi wine.“Silakan, Nyonya.”Pelayan itu menyerahkan segelas wine kepada Violetta. Violetta menerimanya sambil tersenyum tipis.“Terima kasih.”Di kejauhan, dua orang saling bertukar senyum. Rencana mereka berjalan sesuai harapan.Violetta mengangkat gelasnya, diikuti Andrea, Alexander, dan Robin. Keempat gelas itu beradu pelan.“Semoga pembukaan restoranmu sukses, Obi!” seru Violetta.“Semoga sukses!” Andrea dan Alexander menyusul.Robin tersenyum lebar. “Terima kasih, teman-teman. Kalian harus datang, ya. Aku akan menyiapkan tempat khusus untuk kalian.”“Kalau makanannya tidak enak, aku tidak akan datang lagi,” goda Andrea.“Kalau begitu, jangan datang saja.”“Enak saja! Aku tetap datang, tapi kamu harus memberiku diskon.”Robin menggelengkan kepala sebelum meneguk win
“Paman, apakah rencana kita pasti berhasil?”Katherine melirik Jefferson dan Violetta yang masih berdiri bersama para pengusaha. Jemarinya mengencang saat melihat tangan Jefferson melingkar di pinggang istrinya.“Kamu tenang saja. Paman sudah menempatkan orang-orang kepercayaan di hotel ini. Kamu tinggal menunggu hasilnya,” jawab Sebastian.“Bagaimana kalau ada yang tidak berjalan sesuai rencana?”“Karena itu, kita harus memastikan semuanya tetap terkendali. Sekarang, dekati keluarga Wijanarka. Kita perlu membangun hubungan baik sekaligus memastikan kehadiran kita tidak menimbulkan kecurigaan.”Katherine mengangguk, lalu mengikuti Sebastian menuju kelompok pengusaha di dekat panggung utama.Tak lama kemudian, Rustandi Wijanarka membuka acara makan malam dengan pidato singkat. Setelah menyampaikan terima kasih kepada para tamu, ia memperkenalkan putra tertua sekaligus pewaris keluarganya yang baru kembali dari luar negeri.“Silakan sambut Robin Wijanarka.”Seorang pemuda berjas putih m







